Opini

Cerpen

Puisi

Latest Updates

Cara Backup Dan Restore Aplikasi Android dan Data Dengan Titanium Backup

9:48:00 PM



Setelah kemarin Blok 51 menjelaskan tentang Cara Mudah Transfer File Foto Video Dari Android Ke Komputer Tanpa Kabel, kali ini kami akan berbagi mengenai Cara Backup Dan Restore Aplikasi Android Beserta Datanya.

Mungkin dari prakata di atas ada sebagian warga Blok 51 yang belum begitu jelas apa maksudnya. Nah, jadi begini. terkadang karena rusak, atau kapasitas memory yang terbatas, kita dipaksa untuk menghapus beberapa aplikasi yang sudah terinstal di android kita. dan celakanya, yang paling disarankan adalah aplikasi dengan kapasitas besar dan meruapakan aplikasi kesukaan kita. 

Maka dari itu Blok 51 tanpa panjang lebar lagi akan membagikan aplikasi yang bernama Titanium Backup yang bisa kalian download di playstore.

Berikut adalah langkah-langkahnya.

1. Setelah aplikasi terinstall di android, silahkan buka dan lanjutkan dengan memberikan akses rootnya

2. Pilih salah satu aplikasi yang akan dibackup dengan menyentuh iconnya 

3. Ada banyak pilihan disana. Pilihlah bagian BACKUP

4. Pilih UNINSTALL untuk mengembalikan aplikasi terpasang di android kita

5. Jika diperlukan kembali aplikasi ini bisa diinstall kembali dengan menekan ikon aplikasi yang dimaksud dan memilih RESTORE. Maka aplikasi akan kembali seperti semula lengkap dengan datanya. tanpa harus download lagi ataupun meng-Updatenya.


Demikian penjelasan singkat mengenai Cara Backup Dan Restore Aplikasi Android dan Data Dengan Titanium Backup. Semoga bermanfaat.

Cara Mudah Transfer File Foto Video Dari Android Ke Komputer Tanpa Kabel Dengan Airdroid

5:30:00 AM


Malam ini Blok 51 akan berbagi aplikasi dan informasi atau trik cara mudah transfer file dari android ke komputer tanpa harus ribet. File yang ditransfer bisa berupa foto, video, ataupun file-file lainnya. 

Di samping mentransfer file dari android ke komputer, kali ini Blok 51 juga akan membagikan aplikasi yang bisa digunakan untuk mentransfer file dari komputer ke android, dan uniknya aplikasi ini tidak membutuhkan kabel usb untuk menghubungkannya.

Baiklah, biar tidak terlalu lama monggo disimak penjelasannya secara singkat.

1. Silahkan download aplikasi dari playstore





2. Setelah aplikasi terunduh, silahkan buka

3. Setelah terbuka, nyalakan laptop atau komputer dan bukalah browser andalan anda dan tulislah IP yang tercantum di android anda dengan diikuti :8888 dan tekan ENTER

4. Maka di layar android akan muncul pemberitahuan untuk menerima permintaan dari komputer. maka pilihlah yang ACCEPT jangan yang REJECT

5. Nah, setelah proses di atas selesai, anda bisa mengirim file dari android sesuka hati anda dengan menekan tombol DOWNLOAD pada file yang diinginkan.

6. Atau memindah file dari komputer ke android dengan cara men-drag (menggeser) file yang dinginkan.



Senja Itu Telah Memudar

6:54:00 PM


Senja itu telah memudar, dan dunia kunang-kunang perlahan menampakkan eksistensinya. Desiran angin gunung semakin memanjakan setiap hembusan penghuni lembah cinta. Aroma khas belerang seperti obat nyamuk yang memeluk kulit-kulit yang semakin menggigil, tak terkecuali Blind yang semakin akrab dengan tempat tidur barunya. Beralaskan klaras dan berselimut pandan wangi mengantarkannya semakin pekat dalam mimpi. Gesekan-gesekan bulu jangkrikpun serasa violist sedang asyik memainkan nada pengantar tidur, nikmat sekali rasanya. Oh tidak, tidak senikmat itu rupanya. Sedikit demi sedikit langit mulai mengencingi ibu jari kakinya yang terlewat dari daun pisang kering yang menyelimuti tubuhnya. basah, dan semakin menjalar hingga membasahi pantatnya. Sepertinya langit malam sedang kesepian, ia tahu ada seonggok daging bernafas sedang memamerkan kenyamanan di tengah kerja kerasnya memikul jutaan manik-manik malam.


“Oh, jahat sekali kau malam, tak tahukah sepanjang langkahku habis untuk menjaga kenyamanan tuanku menghamburkan uang untuk lampu hias, taman bunga, monumen-monumen nirmakna, atau sekedar mengecat ulang patung pria yang dianggapnya ayah, dan tahukan kau, itu palsu. Biarkanlah aku sejenak bernafas normal.” Kesalnya sambil ia nayalakan sebatang rokok dan bersandar dalam apitan akar kepoh sambil menikmati sisa-sisa mimpinya.
Sepertinya langit sedang anyang-anyangan, tak hentinya ia mengencingi beberapa bagian tubuh Blind yang semakin tersudut tanpa bisa menghindar alirannya. Dan di tengah-tengah himpitan air, suara jangkrik, dan gesekan daun ploso yang tersapu angin terdengar sayup-sayup teriakan perempuan dari gubuk seberang. Secepat kilat ia singkirkan daun-daun yang menali simpul tubuhnya, ia lempar rokok di jari yang baru terpakai beberapa hisapan, dan berlari tunggang langgang menghampiri sumber suara tadi.


“Bangsat kau Haikal! kau memang kotor, tak seharusnya kau menodai air lembah cinta ini dengan bau busukmu itu, menjijikkan!” bentaknya sambil menendang pantat Haikal sekuat tenaga tanpa memberi kesempat untuk menghindar, dan Haikalpun terjengkal dan jatuh dari atas gubuk bersimbah lumpur. Hampir saja Blind turun dan menenggelamkan tubuh cungkring itu ke dasar bumi jika Meylinda tak melarangnya.


“Sudahlah Blind, tak perlu kau benamkan ia ke dalam lumpur itu, ia sudah terlalu jauh terbenam dalam imaji atas nikmati kulitku, dan aku masih baik-baik saja selain bercak liur yang dulu sempat ku bayang madu.” Sengguknya seraya menenangkan Blind yang masih menggetar kepal dengan sejuta amarah.
Keheningan dalam gubuk terasa makin menyuntuk kala tak sepatah kata terletup dari mulut Blind, dan Maylinda masih sesenggukan dalam getar sembari membenahi rambut yang sempat berserakan.


“Kau masih seperti biasanya saja, tak adakah sedikit welasmu untuk wanita yang tersungkur dalam temaram ini? Tak ada tuanmu disini, dan kau tak perlu lagi bersikap seperti paspampres yang sedang mengawal ndaranya.” Hanya suara korek api yang membakar lintingan tembakau sambil melenturkan kaki Blind menggantung dari atas gubuk.


“Jika hanya tubuh dan bau asap rokokmu itu yang menemaniku, apa bedanya dengan mayat, hantupun tak akan tertarik untuk mendekatimu”. Sambil menggeserkan posisi duduknya ke pojok bangunan reot berkaki empat itu.


“Sepertinya memang kau tak pernah teratarik dengan lawan jenis, atau mungkin mungkin hanya menjadikan kami para wanita ini sebagai gula dalam kopimu yang memang hambar atau mungkin pahit, sma seperti tuanmu? Entahlah, memang aku tak pernah merasakannya. Bedanya dia punya puluhan bahkan mungkin ratusan toples gula yang menjadikan wedangnya manis, dan kau apa? Menjadi seperti Haikal aja tak mampu.” Masih tak ada gerakan dari mulut Blind, dan Meylinda mulai melepaskan kebayanya yang sempat basah.


“Jangan kau paksa aku untuk mematahkan sayap bidadari yang sempat baku berikan padamu, aku tak akan pernah menjadi anjing lapar yang merampas makanan tuannya di atas meja. Jadi, rapikan kenakan kembali kebaya itu, setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan.”


“Oh, suci sekali kau ini. Aku tak tersanjung, ini hinaan terdahsyat yang pernah terucap dari mulut berasapmu.”


“Turunlah, mari tinggalkan tempat keparat ini. Kereta api menuju Jatirogo akan lewat sebelum jam 7 pagi jadi jangan sampai tertinggal, atau aku tak sempat membelikanmu baju baru, dan arwahku akan bertemu dengan hantu-hantu sebelumnya.”


Perjalananpun dimulai melewati gerumbulan hutan dan petakan sawah-sawah yang tak terurus, licin, dan tentu banyak hewan melata berkelian. Sepertinya angin memang tak mau diajak berkawan, deburan kabutpun terusir angin utara yang semakin menusuk tulang dinginnya.


“maukah kau menggendongku? Aku sendi-sendiku terasa beku, aku tak sanggup melanjutkan perjalanan ini. Dan jika kau masih bertahan dengan egomu, tinggalkanlah aku disini dan pergila dengan kereta pasir itu sendirian. Meski anjing-ajing yang mulai berkeliaran itu mencabik-cabik tubuhku, atau ular-ular lapar itu mematuk kaki, aku tak peduli. Karena satu-satunya manusia yang mengagumiku sudah kau hempaskan dan tau sudah berapa anjing yang siap menerkamnya. Dan kau, sepertinya juga tak jauh beda.” Dan tanpa basa basi Blindpun membopong keri kecil itu dari belakang yang memang sedari tadi membuntuti dari belakang, dan Meylindapun tertidur.



Bersambung.....

Trip To Batu And Malang With KMI Assalam Bangilan Students

5:30:00 AM




Lagu Assalam: Ya Nabi Salam By Rima And Friends

5:30:00 AM




Banjir Darah Demi Pusaka Catur Jiwo

5:30:00 AM



Mentari belum sepenuhnya memancarkan sinarnya, Namun kicau burung sudah saling bersautan menemani ibu-ibu mempersiapkan sarapan pagi untuk anak dan suami mereka. Jalanan yang masih pekat dengan embun samar-samar mulai pudar seiring hentakan sepatu pegawai dan anak sekolah, para mahasiswa dengan roda duanya.

Tak akan ada yang menyangka bagaimana dulunya kota kecil nan jauh dari hiruk pikuk ibu kota ini bisa lebih maju dan higienis dan seluruh kota di dunia. Bagaimana tidak, hampir tidak ada polusi dudara ataupun limbah di tempat ini, pun dengan pengangguran. Setiap tenaga manusia tercurah untuk setiap industri yang dikerjakan, semua menggunakan tenaga manusia dan bahan-bahan dari alam yang tidak memiliki dampak berbahaya untuk masa depan. Tak ada deru mesin jalanan yang menyaingi suara guru sedang memberi penjelasan kepada siswanya, hanya andong yang sesekali lewat, tidak untuk mengambil sampah dari depan rumah warga, tetapi petugas kecantikan taman, yang merapikan atau mengganti tanaman atau bunga yang mulai tua di sepanjang jalanan kota.

Pemerintah kota tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi dan insutri mekanik, bahkan banyak dari tim ahli di perusahaan-perusahaan besar di di negara lain menginjak tanah pertama kali di kota ini, akan tetapi kesadaran warga yang sudah dipupuk dengan sistem kepemimpinan yang sudah berjalan secara turun temurun.

Ya, kemajuan kota dari sisi ekonomi, teknologi, manusia, maupun alam yang selalu dijaga ini tidak lepas dari sosok Karna. Sosok pria sederhana dari keluarga yang tak seorangpun mengira akan menjadi pencetus sistem pemerintahan terbaik di dunia. Bagi penduduk kota ini, Karna adalah manusia terbaik yang tumbuh dari keluarga terbaik yang dikirim Tuhan untuk memberi tanda kuasa Tuhan tidak diberikan berdasarkan keturunan saja. Kerja keras, ketaatan, doa, dan usaha orang tuanya.

Bagi Karna ketaatan adalah pegangan utama untuk menjadi manusia sesungguhnya. dan itu dibuktikan dengan sabar dan taatnya dia mengikuti perintah eyang guru. Delapana tahun tidak sedikitpun mendapat pelajaran kanuragan dari sang eyang. Ilmu yang didapat hanyalah mengambil air di belakang padepokan Wilujeng Raharja untuk mandi para murid dan mengurus tanaman di sekitar padepokan.

Langkahnya untuk memajukan kota menjadi pusat belajar dan perekonomian negara tidak serta merta jadi. Halangan yang begitu besar datang silih berganti.Setelah Eyang guru meninggal, wasiat terahirnya adalah Karna sebagai pewaris padepokan yang setiap titahnya wajib ditaati setiap penghuni kota. Pimpinan padepokan adalah pemimpin kota. Empat puluh hari berlalu, padepokan dan sekitarnya terlihat seperti kota mati, sampai segerombolan orang datang dengan pakaian dan kendaraan serba mewah yang dipimpin seorang wanita mengaku sebagai anak eyang guru dan menagih warisan dari ayahnya.

Memang berdasarkan cerita, eyang guru memiliki sepasang putra putri, namun setelah dewasa dengan ilmu kanuragan yang cukup muncul rasa jumawa dan meninggalkan padepokan, karena baginya sudah tidak ada lagi tantangan di kota kecil dengan bau belerang dimana-mana.

Seluruh warga bingung dengan kondisi ini, "Bagaimana mungkin seorang perempuan akan memimpin kota yang pernah ditinggalkannya, sementara dia pergi saja karena jijik dengan kota ini, bisa-bisa nanti kota ini dijual dan kita akan merasakan yang namanya menderita". ujar Munir yang memang didakwa sebagai lurah.

Munirpun berinisiatif mengumpulkan seluruh pimpinan desa dan pemuka agama untuk mencari solusi dari benih pertikaian yang mulai tumbuh, dari hasil musyawarah, Karna adalah pewaris sah padepokan Wilujeng raharja dan berhak memimpin kota sementara keturunan laki-laki dari eyang guru tidak tahu kemana. Namun baru saja keputusan itu dibacakan, datang seorang pria setengah baya dengan wajah mirip eyang guru. semua terperanjat, takut, kaget, bahkan ada yang menyangkan eyang guru terlahir kembali dengan sosok yang lebih muda.

"Aku Ludira, pewaris utama eyang guru. aku kesini tidak untuk mewaris kepemimpinan atas padepokan dan kota ini, aku hanya ingin mengambil pusaka pedang catur jiwo milik bapakku". 

Tak seorangpun berani berbicara kecuali pria setengah meter dengan rambut yang lebih panjang dari ukuran tubuhnya, Munir. "Mari ku antar ke padepokan, mungkin Karna bisa mebberi penjelasan" ujarnya.

Ludira pun bergegas menuju padepokan dengan kuda hitamnya yang gagah. 

Tanpa basa basi langkahnya tertuju ke saung utama dimana eyang biasa merebahkan badan dan menemui para tamunya yang Ludurapun sebenarnya belum pernah memasuki ruangan itu. Ia terheran dengan pemandangan yang dilihatnya, tak ada aroma mistis ataupun senajata pusaka, hanya buku-buku tebal tertata rapi dari ujung pintu satu ke ujung pintu lainnya. "Kang Ludira, ada yang bisa saya bantu?" sapa Karna.

"Kau pasti karna. Tenang, aku kesini tidak untuk merampas kepemimpinan yang diberikan bapak kepadamu atas padepokan dan kota ini, aku hanya ingin pusaka bapakku, kau tentu tau yang aku maksud." sergah Ludira.

Karna mulai bingung bagaimana memberikan jawaban yang tepat agar tidak tersinggung dan marah. Sementara ia tahu dari eyang guru pusaka pedang carur jiwo hanya sebuah istilah, bukan sebuah benda. 

"Aku mengerti kakang, benda itu disimpan eyang di dalam ujung goa bawah air terjun belakang padepokan. untuk memasukinya kau harus bertapa empat puluh hari empat puluh malam, dan kau hanya boleh makan saat matahari itu tak terlihat. Tentu kau mengerti maksudku". Jelasnya.

"Oh, ternyata begini caramu Dira. kau masih saja bodoh dan tidak bisa bermain cantik untuk mendapatkan yang kau inginkan, kau tetaplah pria bodoh Ludira. Dan kau Karna, kau tidak sopan memberikan rahasia bapak kepada anak ingusan ini tanpa membertahuku dulu sebagai keturuanan pertama bapak." potong Minawati yang sedari tadi mengintip dari luar.

Hampir saja pertikaian besar terjadi, karena Ludira menjawab hinaan kakaknya dengan kilatan pedang yang siap menebas leher kakaknya itu. pertikaianpun terjadi. Saling adu kanuragan tak bisa terelakkan. Ditengah perkelahian satu darah itu Krna berujar, "Teruslah berkelahi dan saling bunuh, karena 40 hari ke depan aku yang akan mendapatkan pusaka itu tanpa halangan berarti." dan merekapun menghentikan perkelahian yang sedang seru-serunya dan beralih beradu cepat menuju bawah air terjun yang sedang deras-derasnya, dan mereka mulai membuat tempat pertapaan.

Baru tujuh hari merasa tenang dari gangguan anak-anak eyang guru, berita duka datang dari kampung halaman Karna, kedua orang tuanya ditemukan meninggal bersimbah darah dirumahnya. emosinya memuncak, tiraninya berkuasa, ingin rasanya ia membunuh pemilik gelang emas yang ditemukan dalam genggaman ibunya, dan semua orangpun tahu siapa pemilik perhiasan itu.

pikirannya berkecamuk, antara air mata dan dosa, antara dendam dan balas jasa. hampir setiap jam ia memantau perkembangan dua gubuk kecil di samping air terjun, dan memang minawati memiliki strategi yang cerdik, bahkan licik dibanding adiknya, Ludira. Ia memilih tempat teraman dan terdekat disamping mulut goa, sementara Ludira tepat dibawah aliran terjun, yang jika terjadi banjir bandang, ia akan karam bersama gubuknya.

Tepat seminggu sebelum empat puluh hari sepeninggal orang tuanya, karna dikagetkan dengan ramai sorak sorai warga dari arah air terjun. Ia pun bergegas kesana, dan puluhan warga sudah berkerumun menonton pertunjukan yang tidak wajar. Sepertinya Karna datang terlambat, sesampainya di air terjun kedua anak eyang guru itu telah terkapar dengan pedang tertusuk di ulu hati masing-masing. 

Warga yang tadinya tak berani mendekat, karena kedatangan Karna segera menolong mayat keduanya, namun belum sampai mayat dipegang, terdengar gemuruh yang begitu dahsyat yang diketahui warga sebagaia tanda datangnya banjir bandang kiriman dari kota sebelah. Wargapun berhamburan meningalkan lokasi. Benar saja, air bah menggerus gubuk dan dua tubuh tanpa nyawa tanpa tahu dimana bermuara.

 
Copyright © Blok 51. Designed by OddThemes | Redesigned By Blind R